Sabtu, 28 Januari 2012

Proyek Pribadi Hari Ini :

Sahabat saya yang sering dihentikan oleh kurangnya keberanian, dengarlah ini ...

Orang yang sedikit keberaniannya, harus banyak akalnya.
...
Itu sebabnya kita sering melihat orang yang bertubuh kecil, memimpin banyak orang yang bertubuh tinggi besar.

Itu juga mungkin sebabnya, kita menemukan orang yang pemalu dan kuper, yang mempekerjakan banyak orang yang supel dan popular dalam pergaulan.

Lemahnya tubuh, banyaknya kekurangan, dan kecilnya keberanian, tidak membatasi kemungkinan yang bisa Anda capai, jika Anda tidak menghalangi kebebasan akal Anda.

Hmm ...

Itu sebabnya Tuhan memberikan akal kepada kita, agar kita menggunakannya sebagai penyeimbang bagi kekurangan kita, dan sebagai pelebih jika kita lebih bersungguh-sungguh.

Dan ini adalah salah satu penjelasan, mengapa tidak akan berubah nasib seseorang, jika dia tidak berupaya.

Orang yang sedikit keberaniannya, harus banyak akalnya.

Mario Teguh - Loving you all as always

:::::. Bismillahirrahmaanirrahiim .:::::

Berkata Abdullah bin Mubarak Rahimahullahu Ta’ala :
Saya berangkat menunaikan Haji ke Baitullah Al-Haram, lalu berziarah ke makam Rasulullah sallAllahu ‘alayhi wasallam. Ketika saya berada disuatu sudut jalan, tiba-tiba sayamelihat sesosok tubuh berpakaian yang dibuat dari bulu. Ia adalah seorang ibu yang sudah tua. Saya berhenti sejenak seraya mengucapkan salam untuknya. Terjadilah dialog dengannya beberapa saat.

Dalam dialog tersebut wanita tua itu, setiap kali menjawab pertanyaan Abdulah bin
Mubarak, dijawab dengan menggunakan ayat-ayat Al-Qur’an. Walaupun jawabannya tidak tepat sekali, akan tetapi cukup memuaskan, karena tidak terlepas dari konteks pertanyaan yang diajukan kepadanya.

Abdullah : “Assalamu’alaikum warahma wabarakaatuh.”
Wanita tua : “Salaamun qoulan min robbi rohiim.” (QS. Yaasin : 58)
(artinya : “Salam sebagai ucapan dari Tuhan Maha Kasih”)

Abdullah : “Semoga Allah merahmati anda, mengapa anda berada di tempat ini?”
Wanita tua : “Wa man yudhlilillahu fa la hadiyalahu.” (QS : Al-A’raf : 186 )
(“Barang siapa disesatkan Allah, maka tiada petunjuk baginya”)
Dengan jawaban ini, maka tahulah saya, bahwa ia tersesat jalan.

Abdullah : “Kemana anda hendak pergi?”
Wanita tua : “Subhanalladzi asra bi ‘abdihi lailan minal masjidil haraami ilal masjidil aqsa.” (QS. Al-Isra’ : 1) (“Maha suci Allah SWT yang telah menjalankan hambanya di waktu malam dari masjid haram ke masjid aqsa”)
Dengan jawaban ini saya jadi mengerti bahwa ia sedang mengerjakan haji dan hendak menuju ke masjidil Aqsa.


Abdullah : “Sudah berapa lama anda berada di sini?”
Wanita tua : “Tsalatsa layaalin sawiyya” (QS. Maryam : 10) (“Selama tiga malam dalam keadaan sehat”)


Abdullah : “Apa yang anda makan selama dalam perjalanan?”
Wanita tua : “Huwa yut’imuni wa yasqiin.” (QS. As-syu’ara’ : 79)
(“Dialah pemberi aku makan dan minum”)


Abdullah : “Dengan apa anda melakukan wudhu?”
Wanita tua : “Fa in lam tajidu maa-an fatayammamu sha’idan thoyyiban” (QS. Al-Maidah :6) (“Bila tidak ada air bertayamum dengan tanah yang bersih”)


Abdulah : “Saya mempunyai sedikit makanan, apakah anda mau menikmatinya?”
Wanita tua : “Tsumma atimmus shiyaama ilallaiil.” (QS. Al-Baqarah : 187)
(“Kemudian sempurnakanlah puasamu sampai malam”)


Abdullah : “Sekarang bukan bulan Ramadhan, mengapa anda berpuasa?”
Wanita tua : “Wa man tathawwa’a khairon fa innallaaha syaakirun ‘aliim.” (QS. Al-
Baqarah:158) (“Barang siapa melakukan sunnah lebih baik”)


Abdullah : “Bukankah diperbolehkan berbuka ketika musafir?”
Wanita tua : “Wa an tashuumuu khoirun lakum in kuntum ta’lamuun.” (QS. Al-Baqarah : 184) (“Dan jika kamu puasa itu lebih utama, jika kamu mengetahui”)


Abdullah : “Mengapa anda tidak menjawab sesuai dengan pertanyaan saya?”
Wanita tua : “Maa yalfidhu min qoulin illa ladaihi roqiibun ‘atiid.” (QS. Qaf : 18) (“Tiada satu ucapan yang diucapkan, kecuali padanya ada Raqib Atid”)


Abdullah : “Anda termasuk jenis manusia yang manakah, hingga bersikap seperti itu?”
Wanita tua : “Wa la taqfu ma laisa bihi ilmun. Inna sam’a wal bashoro wal fuaada, kullu ulaaika kaana ‘anhu mas’ula.” (QS. Al-Isra’ : 36) (“Jangan kamu ikuti apa yang tidak kamu ketahui, karena pendengaran, penglihatan dan hati, semua akan dipertanggung jawabkan”)


Abdullah : “Saya telah berbuat salah, maafkan saya.”
Wanita tua : “Laa tastriiba ‘alaikumul yauum, yaghfirullahu lakum.” (QS.Yusuf : 92) (“Pada hari ini tidak ada cercaan untuk kamu, Allah telah mengampuni kamu”)


Abdullah : “Bolehkah saya mengangkatmu untuk naik ke atas untaku ini untuk melanjutkan perjalanan, karena anda akan menjumpai kafilah yang di depan.”
Wanita tua : “Wa maa taf’alu min khoirin ya’lamhullah.” (QS Al-Baqoroh : 197) (“Barang siapa mengerjakan suatu kebaikan, Allah mengetahuinya”)

Lalu wanita tua ini berpaling dari untaku, sambil berkata : “Qul lil mu’miniina yaghdudhu min abshoorihim.” (QS. An-Nur : 30)
(“Katakanlah pada orang-orang mukminin tundukkan pandangan mereka”)
Maka saya pun memejamkan pandangan saya, sambil mempersilahkan ia mengendarai untaku. Tetapi tiba-tiba terdengar sobekan pakaiannya, karena unta itu terlalu tinggi baginya.

Wanita itu berucap lagi. “Wa maa ashobakum min mushibatin fa bimaa kasabat aidiikum.” (QS. Asy-Syura’ 30) (“Apa saja yang menimpa kamu disebabkan perbuatanmu sendiri”)


Abdullah : “Sabarlah sebentar, saya akan mengikatnya terlebih dahulu.”
Wanita tua : “Fa fahhamnaaha sulaiman.” (QS. Anbiya’ 79) (“Maka kami telah memberi pemahaman pada nabi Sulaiman”)


Selesai mengikat unta itu saya pun mempersilahkan wanita tua itu naik.
Abdullah : “Silahkan naik sekarang.”
Wanita tua : “Subhaanalladzi sakhkhoro lana hadza wa ma kunna lahu muqriniin, wa inna ila robbinaa munqolibuun.” (QS. Az-Zukhruf : 13-14) (“Maha suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini pada kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. Sesungguhnya kami akan kembali pada tuhan kami”)


Saya pun segera memegang tali unta itu dan melarikannya dengan sangat kencang. Wanita tua itu berkata lagi.
“Waqshid fi masyika waghdud min shoutik” (QS. Lukman : 19) (“Sederhanakan jalanmu dan lunakkanlah suaramu”). Lalu jalannya unta itu saya perlambat, sambil mendendangkan beberapa syair, Wanita tua itu berucap.
“Faqraa-u maa tayassara minal qur’aan” (QS. Al- Muzammil : 20) (“Bacalah apa-apa yang mudah dari Al-Qur’an”)


Abdullah : “Sungguh anda telah diberi kebaikan yang banyak.”
Wanita tua : “Wa maa yadzdzakkaru illa uulul albaab.” (QS Al-Baqoroh : 269) (“Dan
tidaklah mengingat Allah SWT itu kecuali orang yang berilmu”)


Dalam perjalanan itu saya bertanya kepadanya.
Abdullah : “Apakah anda mempunyai suami?”
Wanita tua : “Laa tas-alu ‘an asy ya-a in tubda lakum tasu’kum” (QS. Al-Maidah : 101) (“Jangan kamu menanyakan sesuatu, jika itu akan menyusahkanmu”)


Ketika berjumpa dengan kafilah di depan kami, saya bertanya kepadanya.
Abdullah : “Adakah orang anda berada dalam kafilah itu?”
Wanita tua : “Al-maalu wal banuuna zinatul hayatid dunya.” (QS. Al-Kahfi : 46) (“Adapun harta dan anak-anak adalah perhiasan hidup di dunia”)


Baru saya mengerti bahwa ia juga mempunyai anak.
Abdullah : “Bagaimana keadaan mereka dalam perjalanan ini?”
Wanita tua : “Wa alaamatin wabin najmi hum yahtaduun” (QS. An-Nahl : 16) (“Dengan tanda bintang-bintang mereka mengetahui petunjuk”)
Dari jawaban ini dapat saya fahami bahwa mereka datang mengerjakan ibadah hajimengikuti beberapa petunjuk. Kemudian bersama wanita tua ini saya menuju perkemahan.

Abdullah : “Adakah orang yang akan kenal atau keluarga dalam kemah ini?”
Wanita tua : “Wattakhodzallahu ibrohima khalilan” (QS. An-Nisa’ : 125) (“Kami jadikan ibrahim itu sebagai yang dikasihi”) “Wakallamahu musa takliima” (QS. An-Nisa’ : 146) (“Dan Allah berkata-kata kepada Musa”) “Ya yahya khudil kitaaba biquwwah” (QS. Maryam: 12) (“Wahai Yahya pelajarilah alkitab itu sungguh-sungguh”)

Lalu saya memanggil nama-nama, ya Ibrahim, ya Musa, ya Yahya, maka keluarlah anak-anak muda yang bernama tersebut. Wajah mereka tampan dan ceria, seperti bulan yang baru muncul. Setelah tiga anak ini datang dan duduk dengan tenang maka berkatalah wanita itu.


Wanita tua : “Fab’atsu ahadaku bi warikikum hadzihi ilal madiinati falyandzur ayyuha azkaa tho’aaman fal ya’tikum bi rizkin minhu.” (QS. Al-Kahfi : 19) (“Maka suruhlah salah seorang dari kamu pergi ke kota dengan membawa uang perak ini, dan carilah makanan yang lebih baik agar ia membawa makanan itu untukmu”)

Maka salah seorang dari tiga anak ini pergi untuk membeli makanan, lalu
menghidangkan di hadapanku, lalu perempuan tua itu berkata :
“Kuluu wasyrobuu hanii’an bima aslaftum fil ayyamil kholiyah” (QS. Al-
Haqqah : 24) (“Makan dan minumlah kamu dengan sedap, sebab amal-amal yang telah kamu kerjakan di hari-hari yang telah lalu”)

Abdullah : “Makanlah kalian semuanya makanan ini. Aku belum akan memakannya sebelum kalian mengatakan padaku siapakah perempuan ini sebenarnya.”
Ketiga anak muda ini secara serempak berkata :
“Beliau adalah orang tua kami. Selama empat puluh tahun beliau hanya berbicara mempergunakan ayat-ayat Al-Qur’an, hanya karena khawatir salah bicara.”

Maha suci zat yang maha kuasa terhadap sesuatu yang dikehendakinya. Akhirnya
saya pun berucap :
“Fadhluhu yu’tihi man yasyaa’ Wallaahu dzul fadhlil adhiim.” (QS. Al-Hadid : 21)
(“Karunia Allah yang diberikan kepada orang yang dikehendakinya, Allah adalah pemberi karunia yang besar”)


[Disarikan oleh: DHB Wicaksono, dari kitab Misi Suci Para Sufi, Sayyid Abubakar bin Muhammad Syatha, hal. 161-168] dari Situs Al-Muhajir —
Adalah seorang wanita yang bernama Muti’ah. Wanita yang diperkenankan masuk surga pertama kali..!! Kaget? Sama seperti Fatimah ketika itu, yang mengira dirinyalah yang pertama kali masuk surga. Siapakah Muti’ah? Karena rasa penasaran yang tinggi, Fatimah pun mencari seorang wanita yang bernama Muti’ah ketika itu. Bel...iau juga ingin tahu, amal apakah yang bisa membuat wanita itu bisa masuk surga pertama kali? Setelah bertanya-tanya, akhirnya Fatimah mengetahui rumah seorang wanita yang bernama Muti’ah. Kali ini ia ingin bersilaturahmi ke rumah wanita tersebut, ingin melihat lebih dekat kehidupannya. Waktu itu, Fatimah berkunjung bersama si kecil, Hasan. Setelah mengetuk pintu, terjadilah dialog. “Di luar, siapa?” kata Muti’ah tidak membukakan pintu. “Saya Fatimah, putri Rasulullah” “Oh, iya. Ada keperluan apa?” “Saya hanya berkunjung saja” “Anda seorang diri atau bersama dengan lainnya?” “Saya bersama dengan anak saya, Hasan?” “Maaf, Fatimah. Saya belum mendapatkan izin dari suami saya untuk menerima tamu laki-laki” “Tetapi Hasan masih anak-anak” “Walaupun anak-anak, dia lelaki juga kan? Maaf ya. Kembalilah besok, saya akan meminta izin dulu kepada suami saya” “Baiklah” kata Fatimah dengan nada kecewa. Setelah mengucapkan salam, ia pun pergi. *** Keesokan harinya, Fatimah kembali berkunjung ke rumah Muti’ah. Selain mengajak Hasan, ternyata Husein (saudara kembar Hasan) merengek meminta ikut juga. Akhirnya mereka bertiga pun berkunjung juga ke rumah Muti’ah. Terjadilah dialog seperti hari kemarin. “Suami saya sudah memberi izin bagi Hasan” “Tetapi maaf, Muti’ah. Husein ternyata merengek meminta ikut. Jadi saya ajak juga!” “Dia perempuan?” “Bukan, dia lelaki” “Wah, saya belum memintakan izin bagi Husein.” “Tetapi dia juga masih anak-anak” “Walaupun anak-anak, dia juga lelaki. Maaf ya. Kembalilah esok!” “Baiklah” Kembali Fatimah kecewa. *** Namun rasa penasarannya demikian besar untuk mengetahui, rahasia apakah yang menyebabkan wanita yang akan dikunjunginya tersebut diperkanankan masuk surga pertama kali. Akhirnya hari esok pun tiba. Fatimah dan kedua putranya kembali mengunjungi kediaman Mutiah. Karena semuanya telah diberi izin oleh suaminya, akhirnya mereka pun diperkenankan berkunjung ke rumahnya. Betapa senangnya Fatimah karena inilah kesempatan bagi dirinya untuk menguak misteri wanita tersebut. Menurut Fatimah, wanita yang bernama Muti’ah sama juga seperti dirinya dan umumnya wanita. Ia melakukan shalat dan lainnya. Hampir tidak ada yang istimewa. Namun, Fatimah masih penasaran juga. Hingga akhirnya ketika telah lama waktu berbincang, “rahasia” wanita itu tidak terkuak juga. Akhirnya, Muti’ah pun memberanikan diri untuk memohon izin karena ada keperluan yang harus dilakukannya. “Maaf Fatimah, saya harus ke ladang!” “Ada keperluan apa?” “Saya harus mengantarkan makanan ini kepada suami saya” “Oh, begitu” Tidak ada yang salah dengan makanan yang dibawa Muti’ah yang disebut-sebut sebagai makanan untuk suaminya. Namun yang tidak habis pikir, ternyata Muti’ah juga membawa sebuah cambuk. “Untuk apa cambuk ini, Muti’ah?” kata Fatimah penasaran. “Oh, ini. Ini adalah kebiasaanku semenjak dulu” Fatimah benar-benar penasaran. “Ceritakanlah padaku!” “Begini, setiap hari suamiku pergi ke ladang untuk bercocok tanam. Setiap hari pula aku mengantarkan makanan untuknya. Namun disertai sebuah cambuk. Aku menanyakan apakah makanan yang aku buat ini enak atau tidak, apakah suaminya seneng atau tidak. Jika ada yang tidak enak, maka aku ikhlaskan diriku agar suamiku mengambil cambuk tersebut kemudian mencambukku. Ini aku lakukan agar suamiku ridlo dengan diriku. Dan tentu saja melihat tingkah lakuku ini, suamiku begitu tersentuh hatinya. Ia pun ridlo atas diriku. Dan aku pun ridlo atas dirinya” “Masya Allah, hanya demi menyenangkan suami, engkau rela melakukan hal ini, Muti’ah?” “Saya HANYA MEMERLUKAN KERIDHOANNYA. Karena istri yang baik adalah istri yang patuh pada SUAMI-YANG-BAIK dan sang suami ridlo kepada istrinya” “Ya… ternyata inilah rahasia itu” “Rahasia apa ya Fatimah?” Mutiah juga penasaran. “Rasulullah mengatakan bahwa dirimu adalah wanita yang diperkenankan masuk surga pertama kali. Ternyata semua gara-gara baktimu yang tinggi kepada seorang suami yang sholeh.” *** Subhanallah, Intinya : Seorang hamba ALLAH memmohon keridhoan Robb-nya.. Seorang anak mencari keridhoaan ORTU-nya... Dan jika anda seorang istri carilah bagaimana mendapatkan keridhoan suami.!! Ssssst ..... carilah laki-laki sholeh yg mudah meminta ridhonya ... ga pelit menolong banyak wanita ke Jannah .. :D :D AAmiin ** Edited by HAA dari banyak sumber .

Jumat, 30 Desember 2011

Untukmu T.E.M.A.N.

" Disini...Qt pernah bertemu..
Mencari warna Seindah Pelangi..
Ketika Kau menghulurkan tanganmu...
Membawaku Ke daerah yang baru...
dan hidupku kini CERIA...
Kini Dengarkanlah...Dendangan lagu tanda Ingatanku kepadamu T.E.M.A.N
agar ikatan ukhuwah kan bersimpul padu...
Tak kan ku lupa walau badai datang melanda..
Walau bercerai jasad Dan nyawa...
Mengapa Qt Ditemukan dan akhirnya Qt dipisahkan???
Mungkinkah Menguji Kesetiaaan...Kejujuran dan kemanisan Iman...
TUHan berikan daku kekuatan...


Mungkinkah Kita terlupa TUHAn ada janjiNYa...
Bertemu berpisah ...
Qt adalah Rahmat dan KasihNYa...
andai ini UJian, Terangilah dengan Kesabaran...
Pergilah Gelita..Hadirlah Cahaya....

emm..apa ya..???

"Your Story may not have such a happy begining, But That doesn't make you 'who you are'...
It is rest of your story...Who you CHOOSE to Be..."(Kungfu Panda 2)

pagi tak pernah telat dalam membuka hari..
seulas senyuman mentari menjadi penyemangat...
dalam membuka tabir misteri hari ini,
biarlah semilir angin pagi membawa...
pergi yang telah lalu, penat, letih, sesak...
Biarlah menjadi kenangan DIRI....

Jika Mereka bertanya kepadamu tentang semangat..
Jawablah, bahwa BARA itu masih tersemat dalam dadamu..
Bahwa API itu masih bersemayam dalam dirimu..
Bahwa Matahari itu masih terbit di hatimu...
Bahwa Ketupan itu siap meledak dalam duniamu..
Katakan itu pada mereka, orang-orang yang ragu akan kemampuanmu...
Karena MimpiMu hari ini adalah KEnyataan di Hari ESOk...Aamiin insyaAllah...
Allah pemberi cahaya (kepada) langit dan bumi.perumpamaan cahayaNya, seperti sebuah lubang yang tidak tembus yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu ada di dalam tabung kaca, dan tabung kaca itu bagaikan bintang yang berkilauan, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, yaitu pohon zaitun yang tidak tumbuh di timur dan tidak pula di barat. Yang minyaknya saja hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya berlapis-lapis. Allah memberi petunjuk kepada cahayaNya bagi orang-orang yang Dia kehendaki, dan Allah membuatperumpamaan-perumpamaan bagi manusia. dan allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
...Cahaya itu dirumah-rumah yang disana telah diperintahkan allah untuk memuliakan dan menyebut namaNya, di sana bertasbih menyucikan NamaNYa pada waktu pagi dan petang....(QS.An-nuur: 35-36)

Senin, 11 Juli 2011

hanya orang kuat yang baik yang bisa memberikan keadilan dan menciptakan kesejahteraan..bukan orang yang baik..
Doanya Umar Bin Khattab: " Lindungilah kami dari orang-orang yang bertakwa yang lemah dan tidak bertakwa yang lemah dan tidak berdaya...
Lindungilah kami dari orang-orang jahat yang perkasa dan tangguh..

Semangat ... u melahirkan orang2 baik yang kuat atau orang2 kuat yang baik...
Ganbarimasu...!!!
sejarah mengajarkan kita bahwa risalah yang agung haruslah dibawa oleh seorang rasul yang agung..yaitu nabi muhammad..
hal ini menyatakan bahwa sebuah misi besar haruslah diemban oleh seorang manusia yang besar,,,bahwa sebuah beban amanah yang berat haruslah dipikul oleh seorang laki2 atau perempuan yang kuat..bahwa sebuah pedang yang tajam hanyalah akan berguna jika ia berada dalam genggaman tangan seorang pahlawan pemberani...bahwa sebuah peradaban hanya dapat dibangun di atas altar sejarah oleh manusia-manusia peradaban....